Sebuah Cerpen
Ingatkah kamu tentang cerita suatu senja?
Ketika merah cakrawala dan bayangan lampu kota terlindas oleh roda-roda sepeda kita.
Bukankah kita masih sangat belia saat itu, bahkan untuk mengenal suatu rasa.
Aku memang bukanlah pujangga. Meski mencintai sastra semenjak kecil, tak lantas membuatku mampu bersyair indah laksana Rendra atau Sapardi Djoko Damono. Namun, dengan segenap kemampuan, aku ingin bisa menulis puisi. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk seorang gadis yang tiba-tiba mengubah debaran hatiku semenjak mata kami beradu.
Karenanya aku menaruh hormat untuk sebuah senja. Bukan apa-apa. Sebab senja telah mempertemukanku dengan gadis itu. Ketika liuk gemulai tariannya membuatku terpana. Dan entah kenapa, hari selanjutnya aku senantiasa memikirkannya.
“Kamu sedang jatuh cinta, Bud.” Begitulah komentar seorang teman setelah mendengar pengakuanku.
Aku terperangah tak mengerti. “Apa itu?”
“Nggak perlu berlagak bodoh,” ujar temanku itu dengan senyum ditahan.
“Serius,” jawabku cepat. “Aku benar-benar tak tahu.”
Cepat temanku menarik kursi di sampingku dan lantas mendudukinya.
“Okelah, sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur,” ujarnya dengan tatapan penuh ke arahku. “Apakah kamu setiap saat selalu memikirkan gadis itu?”
Aku mengangguk.
“Apa wajah gadis itu selalu hadir dalam otakmu setiap saat?”
Aku kembali mengangguk.
“Tak salah lagi,” gumam temanku.
Aku menatapnya dalam-dalam.
“Pertanyaan berikutnya, apa kamu merasa kehilangan jika satu hari tak bertemu dia?”
Lagi-lagi aku menganggukkan kepala.
“Pasti tak keliru lagi,” desis temanku dengan kepala terangguk-angguk. “Kamu sedang jatuh cinta, Bud.”
“Maksudmu?”
“Terimalah nasibmu, kawan, panah dewa asmara sekarang sedang menancap di hatimu”
“Maksudmu?”
“Gunakanlan pikiran dan hatimu, dekati gadis itu dan ungkapkan kata hatimu secara jujur.”
“Caranya?”
Sontak temanku pergi begitu saja. “Pakai otakmu, itu bukan urusanku.”
Sompret.
Benarkah cinta mengembalikan seseorang menjadi seperti kanak-kanak? Ketika otakku tiba-tiba beku dan lidahku pun jadi kelu. Mendadak aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
***
Apakah senja itu masih ada?
Saat perjumpaan pertama di teras rumahmu pada suatu senja yang sunyi
sesaat memang, namun berlanjutkah ini menjadi sebuah rasa?
Kubaca beberapa buku tips bagaimana mengawali sebuah hubungan. Kulatih beberapa kalimat yang mampu mencairkan suasana. Kenapa ini jauh lebih susah dari menghapal naskah drama yang tersulit? Mengapa Hamlet, Julius Caesar, atau Romeo Juliet begitu mudah dihapal?
Kutulis beberapa lembar surat yang selanjutnya tak pernah kukirimkan. Aku memang tak punya nyali untuk sekedar mengemukakan perasaan yang membuncah ini meski melalui tulisan. Dan surat yang kukirim padanya hanya beberapa kalimat pendek.
“Bolehkah saya menjadi temanmu? Bolehkah saya main ke rumahmu?”
Dua pertanyaan yang dalam mimpipun aku tak berani berharap. Entah kenapa? Gadis itu laksana malaikat. Kecantikannya begitu memikat. Gerai rambutnya bersemu merah seperti cakrawala senja, berpadu kulit wajahnya yang seputih susu dan terkadang menjadi merah dadu. Lihatlah, pesonanya melahirkan aura keindahan laksana adikarya maestro seni.
Sungguh, laksana mencecap surga sewaktu aku bisa berbincang dengannya. Bahkan saat aku boleh menyambangi rumahnya. Cukuplah ini bagiku, karena aku memang ingin menjadi bagian dari dirinya.
“Aku butuh kamu,” bisikku suatu saat di dekat telinganya.
“O ya?” tanya gadis itu. Matanya berbinar-binar.
Aku mengangguk.
“Kenapa kamu membutuhkan aku?”
“Perlukah sebuah jawaban?”
Gadis itu mengangguk.
“Aku tidak punya alasan untuk itu,” jawabku.
“Berikanlah alasan untukku,” pintanya.
Aku diam tak berkutik. “Mungkin karena kehadiranmu telah memotivasi aku,” jawabku sekenanya.
“Hanya itu?”
Aku diam tak berkutik lagi. Apakah aku punya nyali untuk mengatakan bahwa alasan sesungguhnya karena aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya?
Diam mengapung sampai akhirnya aku hanya bisa berbisik, “Kamu seorang sahabat yang baik.”
“Hanya itu?”
Aku mengangguk. Lalu kami sama-sama terdiam. Barangkali ada kecewa di sudut hatinya. Mungkin ada sejuta harap untuk sebuah alasan yang lebih jujur.
Maafkanlah aku, sayang.
Biarkan aku merutuki kepengecutanku ketika merasakan bahwa hari esok tak lagi memiliki keindahan yang serupa. Ya. Seorang lelaki telah menaklukkan hatimu dan menyuntingmu.
Aku hanya bisa termangu.
***
Senja yang muram
Saat kutinggalkan debu kemarau kotaku demi sebuah mimpi
Adakah kamu masih mengharap kepulanganku?
Matematika adalah dunia mayaku. Berharap keintimanku pada differensial integral, trigonometri, aritmetika, polinomial, kombinatorial bisa melupakan bayangan gadis itu. Berharap jarak ratusan kilometer demi gelar sarjana teknik mampu menghapus jejak wajah cantiknya.
Namun, segalanya memang sia-sia. Rambut bersemu senja dan wajah seelok sutra itu tak pernah pudar dari benak. Dia senantiasa hadir menginspirasi saat aku kuliah, ujian, praktikum, ospek, atau sewaktu berorasi di tengah demonstrasi mahasiswa. Dia selalu berada di sampingku saat aku menggalang massa, memimpin demo, menggugat ketidakadilan penguasa. Secara imajiner gadis itu memang tak pernah henti memotivasiku.
“Bud, hati-hati! Kelihatannya kamu bakal jadi target penculikan.” Seorang kawan aktivis tiba-tiba memperingatkanku.
“Aku tahu,” jawabku santai. “Beberapa hari ini telepon di kosku kedengaran seperti disadap.”
“Kamu tidak takut?”
Aku menggeleng. “Kenapa harus takut?”
“Aku heran denganmu,” kata kawanku itu sembari matanya menatapku tajam.
“Kenapa?”
“Kamu aktivis yang tak pernah gentar dengan intimidasi. Tulisan kamu tajam. Orasi kamu ganas dan frontal. Apa kamu benar-benar tidak takut diciduk?”
Aku tersenyum mendengarnya. “Kawan, tiada hal yang paling indah selain memperjuangkan idealisme. Jadi, kenapa aku harus takut dengan resikonya?”
Kawanku menggeleng-gelengkan kepala, lantas berlalu begitu saja. Dia memang tak pernah tahu bahwa di sampingku sesosok perempuan cantik imajiner selalu memompa semangat dan adrenalinku.
***
Masihkah tersisa senja untukku?
sekedar agar aku bisa mengenangmu, tentang rambut indahmu dan molek wajahmu
atau tak inginkah kamu mengingatku barang sesaat?
Apa yang ditakutkan kawan-kawan aktivis terbukti sudah. Di suatu senja yang gersang, seusai demo massa di kawasan gedung rakyat, tiba-tiba dua laki-laki tegap berambut cepak memepet motorku. Aku terjerembab. Dengan gerakan yang sungguh terlatih mereka memitingku, lalu secepat kilat memasukkan tubuhku ke dalam box mobil yang mendadak berhenti di depanku.
Aku nyaris kehilangan kewarasanku ketika berhari-hari terkurung dalam ruangan sempit, sumpek, dan lembab. Tak ada penerangan sama sekali. Udara bersih pun menjadi sesuatu yang mahal. Sinar yang aku dapatkan hanya sesekali saat diinterogasi di hadapan beberapa orang. Itupun dengan cahaya yang sungguh temaram.
Jangan tanya bagaimana penyiksaan yang aku alami. Sundutan rokok, pukulan tangan, tendangan sepatu tentara, dan setruman listrik menjadi makanan sehari-hari. Aku tak tahu berapa lama meringkuk dalam neraka yang mereka ciptakan.
“Kenapa kamu sangat keras kepala?” teriak salah seorang interogator itu geram. “Apa susahnya kamu untuk menandatangani dokumen ini dan kamu akan mendapat perlakukan yang lebih manusiawi.”
Aku menggeleng. Dan tiba-tiba tendangannya menghunjam tulang keringku. Aku tak bisa lagi berteriak. Suaraku sudah habis benar.
“Hei bocah badung, apa yang kamu dapatkan dengan terus menerus memusuhi kami dan menjelek-jelekkan kami?” tanya seorang interogator berbadan gempal.
Aku mengarahkan pandang ke orang itu. Mataku menyipit mencoba mengenalinya. Meski penglihatanku sudah tak lagi normal karena hantaman yang mereka lakukan, tapi aku kenal betul suara dan bentuk tubuhnya. Bukankah ini perwira yang terkenal dekat sekali dengan sumbu kekuasaan di Jakarta.
“Kamu cuma anak kemarin sore,” ejek perwira itu sambil matanya menatap tajam ke arahku. “Kamu benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi. Sekali tepuk, nyamuk-nyamuk pengganggu seperti kalian bakal mampus!”
Aku membisu. Mendadak seorang laki-laki di depanku meletakkan sisa puntung rokoknya di genggaman tanganku hingga bara apinya mati. Aku menahan sakit yang sungguh luar biasa.
“Tampaknya kita berhadapan dengan orang tak berguna.” Perwira itu berjalan meninggalkan ruangan diikuti oleh yang lainnya. Tiba-tiba di depan pintu dia berkata tegas, “Habisi dia, sebelum dia menghancurkan kita!”
Tanpa disuruh kedua kali salah satu pengawal laki-laki itu mengeluarkan sepucuk Baretta dari balik jaket kulitnya. Lalu mengarahkannya tepat di dahiku. Tuhan! Tampaknya aku melihat firasat yang sangat buruk di depan mata. Aku tak berdaya…
“Dor!”
Satu tembakan jarak dekat membuatku terkapar. Darah muncrat dari batok kepalaku yang tertembus timah panas, dan terus menerus mengucur ke bawah. Mendadak aku menyaksikan senja merah yang nyata sekali warnanya karena terlukis dengan semburat darah.
Sesaat kulihat gadis itu menghampiriku dalam bayangan senja. Bukankah itu senja yang sama ketika aku menatapnya pertama kali, saat aku menyambangi rumahnya, dan sewaktu kami berbagi cerita bersama. Tapi mengapa kali ini tak ada senyum dan kata? Hanya aroma kesedihan dan kemuraman.
Aku tak kuasa melihat wajahnya yang kuyu dan sayu. Kenapa keindahan itu ternoda? Apakah karena gadis itu masih setia menanti keberanianku? Sekali lagi, maafkan diriku yang pecundang dan bodoh ini. Seandainya aku bisa berkata, bolehkah aku berbisik di telinganya, “Sungguh, aku mencintaimu sepenuh hati!”
Senja yang sempurna merah. Aku mengatupkan mata untuk selamanya.
Rasuna Said, 20 Maret 2010
– untuk seseorang dari masa laluku –
Yang ini saya numpang berteduh dulu ya Mas, nanti bangun tidur baru baca heheh
Oleh: Erdien on 13 April 2010
at 10:16 am
[...] saya mendadak uring-uringan. Semuanya lantaran sebuah cerpen yang saya tulis dan share di facebook dan blog pribadi. Ceritanya sederhana saja. Tentang tokoh aku [...]
Oleh: Mimpi Atau Nyata? — UNTUNG NYATA!com on 22 April 2010
at 12:50 pm
Izinkan untuk di save dulu ya biar lebih enak bacanya…….
cerpen yang bagus….^_^
Oleh: Delia on 26 Mei 2010
at 11:07 pm
salam kenal…
blognya keren , artikelnya juga keren keren dan mantap mantap,,
thanks, di tugggu kunjjungan baliknya
Oleh: florida family insurance on 25 Juni 2010
at 10:24 am