Minggu kemarin seorang teman mengupdate status facebooknya. Secara satir teman saya itu berkata, “Harusnya masjid yang penuh 10 hari terakhir, tapi kok malah mall yang banjir orang. Dunia-dunia emang fana adanya??!!!”
Saya hanya tersenyum dan menganggukan kepala ketika membaca tulisan teman tadi.
Siangnya saya merasakan sendiri bagaimana susahnya bergerak ketika ingin berbelanja bulanan di sana. Kepadatan tak cuma saat berbelanja saja. Tapi, juga menjalar hingga ke tempat makan, tempat parkir, juga ke tempat bermain anak. Hampir tak ada area yang tersisa. Alamak!
***
Begitulah. Mall kini merupakan salah satu tempat di muka bumi yang mampu menyedot banyak orang untuk memasukinya. Saking kuatnya hegemoni mall atas kesadaran manusia modern, John Fiske menggambarkannya sebagai “katedral-katedral konsumsi”. Meski kemudian ia menyesali perumpamaan tersebut karena frase itu telah menyamakan konsumerisme dengan ritual-ritual ibadah profan.
Namun, ungkapan tersebut memang sangat beralasan. Dengan kehadiran mall, kegiatan belanja terasa begitu mengasikkan. Orang hampir-hampir bisa menemukan apa saja yang dibutuhkannya. Tempatnya pun nyaman untuk berbelanja, makan, bermain, berolahraga maupun untuk sekedar jalan-jalan dan cuci mata. Tak jarang dalam mall diselenggarakan pagelaran musik, pertunjukkan mode, pameran seni dan perayaan-perayaan hari besar seperti Natal dan Idul Fitri.
Pelbagai produk yang ditawarkan di mall telah mengubah cita rasa pembeli, yang seharusnya hanya berfungsi sebagai barang dagangan, seolah-olah telah menjadi deretan “ritual keagamaan” yang siap menolong kegelisahan pembeli selama ini. Tak ayal, pembeli yang kebanyakan adalah kaum perempuan menganggap kegiatan belanja di mall adalah kebutuhan dasar yang penuh fantasi.
Salah seorang filsuf Perancis, Rene Descartes, pernah berujar, “cogito ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Suatu ayat yang bagi sebagian kalangan selalu diimani dan diamini sebagai fundamen bagi seluruh aktifitas manusia. Salah satu bukti yang tidak terbantahkan. Sebab segala sesuatu patut diragukan keberadaannya bila tanpa disertai pemikiran. Demikian lebih kurang pengertian “ayat” tersebut.
Namun, di era kapitalisme dan konsumerisme sekarang ini, tesis filosof Perancis yang hidup tahun 1596-1650 itu tampaknya perlu direvisi. Ini disebabkan perubahan masyarakat modern dari kecenderungan bernalar menuju trend konsumtif secara luar biasa. Agaknya, lebih pantas bila ayat Descartes itu, dipelesetkan menjadi “saya berbelanja, maka saya ada”.
Dapat dikatakan bahwa monumen yang paling menonjol dari konsumeris itu adalah mall. Tempat belanja ini adalah wilayah yang sejuk bagaikan “surga”, yang sungguh dipuja dan dicinta oleh masyarakat modern. Mall sungguh merupakan arena dimana kehidupan dapat sepenuhnya dinikmati dan telah menjadi realitas gaya hidup.
Cara pandang yang terfokus pada falsafah materi oriented ini, alih-alih membuat manusia bahagia dan damai, tetapi justru membuat manusia kehilangan orientasi dan makna hidup, yang akhirnya mencipta suatu kegersangan rohani.
Di sisi lain, mesjid diklaim sebagai simbol kesalehan dan pertobatan, di samping sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan. Sehingga tidak mengherankan kalau ada asumsi sebagian masyarakat bahwa mesjid adalah tempat suci, yang sama sucinya dengan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Selain itu, mesjid juga memiliki nilai sosial yang diharapkan mampu sebagai pemersatu umat.
Di hadapan mall, fungsi mesjid menjadi semacam sumber energi positif yang bisa mencegah dan menghidupkan kesadaran intelektual, emosional dan spritual. Ibn Sina, filosof muslim tersohor abad ke 10, berteori bahwa surga yang dijanjikan Tuhan bisa dicapai seseorang apabila ia mampu memanfaatkan delapan potensi – dalam bahasa agama delapan potensi itu sering disebut sebagai tujuh tingkatan surga ditambah lauh al-mahfuz. Kedelapan potensi itu adalah panca indera, intelektual, emosi, plus rohani atau spritual.
Bagi Ibn Sina, surga bukanlah seperti yang ada dalam bayangan manusia secara umum sebagai tempat yang serba lux. Justru, dengan diam, meditasi, tafakkur dan tadabbur, serta dengan menyendiri, maka surga kehidupan dapat diraih dan bukan dengan “wisata” konsumeris (berbelanja). Surga adalah state of feeling, sebuah institusi rasa pada diri manusia yang tidak dapat dibeli dengan uang atau berada di tempat tertentu.
Dalam proses pemuasan lima indera manusia, mall adalah gudangnya. Secara intelektual, emosional, dan spritual, “kuil” konsumerisme ini bukanlah tempat yang menjanjikan untuk menyegarkan rongga-rongga jiwa manusia. Sedang mesjid sangat berpotensi besar untuk mengisi rongga-rongga yang kosong dari jiwa tersebut.
Mesjid diperlukan agar manusia tidak terserap habis-habisan dan mengumbar nafsu panca inderanya. Mesjid berusaha “mengerem” gejolak yang luar biasa dan dorongan nafsu untuk berbelanja dan berfoya-foya. Peran ini dilakukan dengan cara “mengasah” pikiran dan emosi manusia.
***
Lalu, apa yang terjadi pada manusia modern saat ini?
Tampaknya fenomena yang terjadi sungguhlah memprihatinkan. Orang sudah terjebak pada berhala-berhala kekinian yang berkiblat pada kesenangan duniawi. Banyak orang yang lebih takut kehilangan kesempatan mendapatkan diskon daripada takut kehilangan kesempatan untuk meraih keberkahan.
Belanja memang bukanlah dosa. Tak ada yang melarang kita pergi ke mall, asalkan jangan sampai kepergian kita ke mall itu melupakan untuk pergi ke tempat ibadah atau mesjid.
Lantas, apakah kita mau turut berlomba mengejar citra-citra semu yang digelar mall dengan kiblat modernitas dan hedonismenya? Atau beranikah kita mengambil langkah alternatif untuk hidup seturut jati diri dan martabat kita yang sesungguhnya?
SELAMAT LEBARAN, kawan!
Referensi :
http://homoculture.wordpress.com/2009/02/14/musik-inbox-mall-dan-kawula-muda
http://religiositas-kelasx.blogspot.com/
Foto :
images.kompas.com
renungan yang cukup serius …
Yang mau mudik naik mobil pribadi boleh mampir ke blog saya
http://richocean.wordpress.com/2009/09/15/tips-mudik-mobil-pribadi-bandung-malang-lewat-jalur-tengah-jawa/
Buat rekan2 yang mau berikirim2 ucapan Idul Fitri, boleh mampir ke tempat saya,
http://richocean.wordpress.com/2009/09/14/kirim-sekarang-ucapan-idul-fitri-anda/
atau jika sempat main ke blog saya ttg wisata alam:
http://richmountain.wordpress.com/wisata/rizqi-firdaus-agro-wana-widya-wisata-1/
salam kenal
Oleh: richocean on 15 September 2009
at 10:32 pm