Tak pernah berhenti saya bercerita tentang project IT yang sedang saya tangani ini. Bagaikan skenario sinetron, project ini sambung sinambung terus menerus. Sementara saya sebagai salah satu tokoh didalamnya terjepit dalam sebuah labirin yang memenjarakan.
Saya sering berkirim sms dengan teman lama. Berbagi keluh kesah tentang project yang tak pernah rehat walau sesaat. Ya.. sekedar untuk menghela nafas sembari menghirup segelas coklat beraroma kopi di Starbucks barangkali.
Teman saya adalah kawan yang baik. Dia begitu memotivasi saya. Kadang kata-katanya usil, nakal, segar, bahkan menggoda. Jadi, kalau saya sudah stuck, mandek, biasanya saya mengirimi dia sms. Berharap dia mau membalasnya dengan celetukan-celetukan jenaka. Namun, terkadang pesannya sarat kedewasaan. Laksana motivator ulung. Seringkali dia berceloteh tentang makna hidup yang bikin saya ternganga. Benarkah dia yang bicara?
Setelah itu, biasanya segalanya bakal berubah. Atmosfer menjadi terang dan tercerahkan. Emosi saya biasanya menjadi stabil seperti sehabis meneguk segelas coklat dan mendengarkan lantunan Sarah McLachlan yang mendayu.
Tanpa saya sadari, hanya dengan sebuah pesan singkat, tiba-tiba saya menjadi bersemangat untuk hidup. Pesan yang terkirim itu laksana secangkir sup bagi jiwa. Menghangatkan dan menyembuhkan.
Terima kasih kawan. Tak percuma saya pernah menitipkan hati untukmu.
– Novi, untukmu, selamat ulang tahun ya…–
Apakah Anda setuju bahwa menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan? Jika ya, maka tampaknya Anda sepikiran dengan saya.
Minggu kemarin seorang teman mengupdate status facebooknya. Secara satir teman saya itu berkata, “Harusnya masjid yang penuh 10 hari terakhir, tapi kok malah mall yang banjir orang. Dunia-dunia emang fana adanya??!!!”
Siapa tak kenal Lintang?
Apa jadinya jika tiba-tiba pada suatu hari ada email masuk ke inbox Anda yang memberitahukan kalau seorang teman lama meng-Add Anda di Facebook? Lalu bagaimana jika teman lama itu bukan hanya seorang “teman”? Tapi barangkali dia adalah seseorang yang pernah begitu dekat dengan Anda. Seorang sahabat dekat, mantan pacar, atau mantan suami / isteri barangkali.
Jika anda melihat foto di samping ini dan Anda menebak bahwa orang ini sedang terlelap di atas kasur di kamarnya, pasti Anda salah besar!
Setiap hari ketika saya berangkat ke kantor, saya senantiasa melewati dua pemberhentian kecil di daerah Rawa Buntu, Serpong – Tangerang. Pemberhentian ini bukan semacam terminal atau halte, tapi adalah perhentian karena ada sekelompok orang yang mengacung-acungkan jaring dan kardus di tengah jalan, mengharap sedekah yang dilemparkan dari pemilik kendaraan yang lewat. Dari pengeras suara terdengar himbauan untuk menyumbang pembangunan rumah ibadah di dekat situ.
Lebih dari lima belas tahun lalu, saat saya masih berseragam putih abu-abu, saya sempat membaca sebuah cerita pendek di Majalah Remaja Aneka Ria. Cerita itu memang bukanlah cerita terbaik di majalah yang punya semboyan sebagai Majalah Cerita Remaja. Tapi entah kenapa, cerita itu tak cuma menyita sebagian perhatian saya. Lebih dari itu, cerpen tersebut mampu memberikan inspirasi untuk sebuah jalan di masa depan.
Pagi (27/3) masih terlalu dini dan hujan memang belum usai. Sebagian orang barangkali masih dimabuk lelap sembari menyembunyikan dalam-dalam tubuhnya di balik selimut hangat. Siapa sangka, subuh yang belum pecah oleh suara adzan itu, mengawali hari penuh duka yang tak pernah terlupakan oleh sebagian orang.
Diprediksi akan muncul orang-orang gila baru akibat kalah dalam pemilihan umum legislatif April mendatang. Inilah fenomena menyedihkan yang bakal terjadi beberapa bulan mendatang.