Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 22 November 2009

Catatan Sebuah Pesan yang Memotivasi

Tak pernah berhenti saya bercerita tentang project IT yang sedang saya tangani ini. Bagaikan skenario sinetron, project ini sambung sinambung terus menerus. Sementara saya sebagai salah satu tokoh didalamnya terjepit dalam sebuah labirin yang memenjarakan.

Saya sering berkirim sms dengan teman lama. Berbagi keluh kesah tentang project yang tak pernah rehat walau sesaat. Ya.. sekedar untuk menghela nafas sembari menghirup segelas coklat beraroma kopi di Starbucks barangkali.

Teman saya adalah kawan yang baik. Dia begitu memotivasi saya. Kadang kata-katanya usil, nakal, segar, bahkan menggoda. Jadi, kalau saya sudah stuck, mandek, biasanya saya mengirimi dia sms. Berharap dia mau membalasnya dengan celetukan-celetukan jenaka. Namun, terkadang pesannya sarat kedewasaan. Laksana motivator ulung. Seringkali dia berceloteh tentang makna hidup yang bikin saya ternganga. Benarkah dia yang bicara?

Setelah itu, biasanya segalanya bakal berubah. Atmosfer menjadi terang dan tercerahkan. Emosi saya biasanya menjadi stabil seperti sehabis meneguk segelas coklat dan mendengarkan lantunan Sarah McLachlan yang mendayu.

Tanpa saya sadari, hanya dengan sebuah pesan singkat, tiba-tiba saya menjadi bersemangat untuk hidup. Pesan yang terkirim itu laksana secangkir sup bagi jiwa. Menghangatkan dan menyembuhkan.

Terima kasih kawan. Tak percuma saya pernah menitipkan hati untukmu.

– Novi, untukmu, selamat ulang tahun ya…–

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 23 September 2009

Catatan Sebuah Kepulangan : Jam-Jam yang Melelahkan

spionApakah Anda setuju bahwa menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan? Jika ya, maka tampaknya Anda sepikiran dengan saya.

Tak hanya menyebalkan, menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan sekaligus melelahkan. Apalagi untuk menunggu sesuatu yang tak pasti,  seperti menunggu kemacetan.

Ya. Beginilah yang saya alami bersama keluarga ketika kami terjebak kemacetan di Cikampek akhir minggu kemarin. Lebih dari enam jam lalu lintas nyaris tak bergerak. Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 14 September 2009

Catatan Jelang Lebaran : Antara Mall dan Masjid

diskon lebaranMinggu kemarin seorang teman mengupdate status facebooknya. Secara satir teman saya itu berkata, “Harusnya masjid yang penuh 10 hari terakhir, tapi kok malah mall yang banjir orang. Dunia-dunia emang fana adanya??!!!”

Saya hanya tersenyum dan menganggukan kepala ketika membaca tulisan teman tadi. Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 16 Agustus 2009

Catatan Kelam Sang Bintang Goyang

lintangSiapa tak kenal Lintang?

Pesonanya mampu membius ribuan laki-laki yang dimabuk alunan suaranya. Bintang panggung yang masih duduk kelas dua SMA itu mampu meraup banyak perhatian. Bukan dengan goyangan seronoknya. Juga tidak dengan senyum dan kerling mata menggoda. Magnet itu muncul lantaran gayanya yang lebih sopan dan goyang yang sewajarnya. Aura bernama keluguan dan kemudaan itulah yang menjadiakan dia begitu bersinar di tengah aroma mesum penyanyi lainnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 29 Juli 2009

Catatan Sebuah Romantisme : Kenangan Untuk N

loveApa jadinya jika tiba-tiba pada suatu hari ada email masuk ke inbox Anda yang memberitahukan kalau seorang teman lama meng-Add Anda di Facebook? Lalu bagaimana jika teman lama itu bukan hanya seorang “teman”? Tapi barangkali dia adalah seseorang yang pernah begitu dekat dengan Anda. Seorang sahabat dekat, mantan pacar, atau mantan suami / isteri barangkali.

Bagaimana perasaan Anda? Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 17 Mei 2009

Catatan Lepas Sebuah Project : Militansi atau Spritualitas Baru?

09052009015Jika anda melihat foto di samping ini dan Anda menebak bahwa orang ini sedang terlelap di atas kasur di kamarnya, pasti Anda salah besar!

Dia tertidur nyenyak kecapekan di atas matras yang digelar di ruang project kantor sebuah bank swasta terkemuka tempat saya dan rekan-rekan bekerja. Poject kali ini memang seperti maraton yang begitu melelahkan hingga membuat tim project harus pintar-pintar mengatur waktu kerja dan istirahat selama aktivitas berlangsung. Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 18 April 2009

Catatan Tangan-Tangan Tengadah di Tengah Jalan

peminta-sumbangan11Setiap hari ketika saya berangkat ke kantor, saya senantiasa melewati dua pemberhentian kecil di daerah Rawa Buntu, Serpong – Tangerang. Pemberhentian ini bukan semacam terminal atau halte, tapi adalah perhentian karena ada sekelompok orang yang mengacung-acungkan jaring dan kardus di tengah jalan, mengharap sedekah yang dilemparkan dari pemilik kendaraan yang lewat. Dari pengeras suara terdengar himbauan untuk menyumbang pembangunan rumah ibadah di dekat situ.

Tentu saja, hal ini memaksa kendaraan berjalan lambat-lambat dan menyebabkan jalanan sedikit macet. Tapi bukan karena kemacetan yang ditimbulkan yang membuat hati saya sedikit kesal. Lebih dari itu, saya sangat menyayangkan sikap mereka yang cuma bisa menengadahkan tangan meminta kerelaan hati orang lain. Bagi saya, kegiatan mereka lebih berkesan mengemis daripada meminta sumbangan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 4 April 2009

Catatan Hujan Sepanjang Dago: Cerita yang Menginspirasi

100_1892Lebih dari lima belas tahun lalu, saat saya masih berseragam putih abu-abu, saya sempat membaca sebuah cerita pendek di Majalah Remaja Aneka Ria. Cerita itu memang bukanlah cerita terbaik di majalah yang punya semboyan sebagai Majalah Cerita Remaja. Tapi entah kenapa, cerita itu tak cuma menyita sebagian perhatian saya. Lebih dari itu, cerpen tersebut mampu memberikan inspirasi untuk sebuah jalan di masa depan.

Cerpen itu berjudul “Hujan Sepanjang Dago”.

Mungkin tak ada yang istimewa dari cerita tersebut. Bahkan penulisnya dan tahun edisi majalahnya pun saya sudah lupa. Ketika saya coba bongkar-bongkar ke tumpukan majalah-majalah lama di rumah saya di kampung, saya tak lagi menemukannya.  Ya, barangkali ibu saya sudah menjualnya ke tukang loak keliling. Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 29 Maret 2009

Catatan Duka Situ Gintung: Bencana yang Jadi Komoditas Politik

situ-gintung2Pagi (27/3) masih terlalu dini dan hujan memang belum usai. Sebagian orang barangkali masih dimabuk lelap sembari menyembunyikan dalam-dalam tubuhnya di balik selimut hangat. Siapa sangka, subuh yang belum pecah oleh suara adzan itu, mengawali hari penuh duka yang tak pernah terlupakan oleh sebagian orang.

Mendadak gunungan air setinggi delapan meter menggulung perkampungan. Tanggul Situ Gintung jebol! Dan luluh lantaklah rumah warga seluas 10 hektar. Hanya sekejap bencana itu datang menelan puluhan nyawa manusia dan ratusan orang hilang. Ya, siapa sangka danau elok tempat melepas penat dari hirukpikuk ibukota, telah berubah menjadi sumber petaka luar biasa. Baca Lanjutannya…

Oleh: Budhi Kusuma Wardhana | 22 Maret 2009

Selamat Datang OGB – Orang Gila Baru!

spaduk-calegDiprediksi akan muncul orang-orang gila baru akibat kalah dalam pemilihan umum legislatif April mendatang. Inilah fenomena menyedihkan yang bakal terjadi beberapa bulan mendatang.

Sebuah tulisan editorial di Media Indonesia tanggal 18 Maret 2009 menyebutkan bahwa jutaan orang caleg akan memperebutkan hanya sekitar puluhan ribu kursi legislatif. Sebanyak 11.215 orang memperebutkan 560 kursi DPR dan 1.109 orang bersaing mendapatkan 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah. Selain itu, sekitar 112 ribu orang bertarung untuk mendapat 1.998 kursi di DPRD provinsi dan 1,5 juta orang bersaing merebut 15.750 kursi DPRD kabupaten/kota. Wow, sebuah jumlah yang luar biasa banyaknya.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori