Apakah Anda setuju bahwa menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan? Jika ya, maka tampaknya Anda sepikiran dengan saya.
Tak hanya menyebalkan, menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan sekaligus melelahkan. Apalagi untuk menunggu sesuatu yang tak pasti, seperti menunggu kemacetan.
Ya. Beginilah yang saya alami bersama keluarga ketika kami terjebak kemacetan di Cikampek akhir minggu kemarin. Lebih dari enam jam lalu lintas nyaris tak bergerak. Baca Lanjutannya…
Minggu kemarin seorang teman mengupdate status facebooknya. Secara satir teman saya itu berkata, “Harusnya masjid yang penuh 10 hari terakhir, tapi kok malah mall yang banjir orang. Dunia-dunia emang fana adanya??!!!”
Siapa tak kenal Lintang?
Apa jadinya jika tiba-tiba pada suatu hari ada email masuk ke inbox Anda yang memberitahukan kalau seorang teman lama meng-Add Anda di Facebook? Lalu bagaimana jika teman lama itu bukan hanya seorang “teman”? Tapi barangkali dia adalah seseorang yang pernah begitu dekat dengan Anda. Seorang sahabat dekat, mantan pacar, atau mantan suami / isteri barangkali.
Jika anda melihat foto di samping ini dan Anda menebak bahwa orang ini sedang terlelap di atas kasur di kamarnya, pasti Anda salah besar!
Setiap hari ketika saya berangkat ke kantor, saya senantiasa melewati dua pemberhentian kecil di daerah Rawa Buntu, Serpong – Tangerang. Pemberhentian ini bukan semacam terminal atau halte, tapi adalah perhentian karena ada sekelompok orang yang mengacung-acungkan jaring dan kardus di tengah jalan, mengharap sedekah yang dilemparkan dari pemilik kendaraan yang lewat. Dari pengeras suara terdengar himbauan untuk menyumbang pembangunan rumah ibadah di dekat situ.
Lebih dari lima belas tahun lalu, saat saya masih berseragam putih abu-abu, saya sempat membaca sebuah cerita pendek di Majalah Remaja Aneka Ria. Cerita itu memang bukanlah cerita terbaik di majalah yang punya semboyan sebagai Majalah Cerita Remaja. Tapi entah kenapa, cerita itu tak cuma menyita sebagian perhatian saya. Lebih dari itu, cerpen tersebut mampu memberikan inspirasi untuk sebuah jalan di masa depan.
Pagi (27/3) masih terlalu dini dan hujan memang belum usai. Sebagian orang barangkali masih dimabuk lelap sembari menyembunyikan dalam-dalam tubuhnya di balik selimut hangat. Siapa sangka, subuh yang belum pecah oleh suara adzan itu, mengawali hari penuh duka yang tak pernah terlupakan oleh sebagian orang.
Diprediksi akan muncul orang-orang gila baru akibat kalah dalam pemilihan umum legislatif April mendatang. Inilah fenomena menyedihkan yang bakal terjadi beberapa bulan mendatang.
Belum lepas kontroversi PSSI yang mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022, kini muncul kontroversi baru berkaitan dengan cabang olahraga paling populer di negeri ini. Indonesia berencana untuk menarik Guus Hiddink sebagai pelatih timnas!